Drama melahirkan

Nyook lanjutin cerita sebelumnya..

Jadi, di tanggal 23 juni 2014 sekitar pukul 6.30 wib berangkatlah kami bertigaan dengan tas perintilan yang banyak banget, karna kebetulan erina lagi mau sekolah & batal karena aku mau melahirkan. So, dia kerumah sakit dengan pakaian putih biru, tas bahkan sepatu sekolah 😁.

Mungkin ada yang bingung yah, kenapa anak kelas 3 SMP kok diajak ke RS untuk nemenin aku yang mau melahirin?, yah jawabannya simple krna posisi pas aku mau melahirin kemarin, mertua lagi sakit parah, keluarga yang laen pada jauh & aku ga punya orangtua lagi (yatim piatu). Sungguh aku meloww kalau ingat perjuangan melahirkan Zidan.

Sampai ke RS bunda, langsung di cek VT, dll & ternyata baru bukaan satu. Tapi ga disuruh pulang karna kontraksinya bagus & akhirnya langsung masuk ke ruangan bersalin sendirian. Kemudian disuruh pilih dokter, aku udah bilang kalau selama ini kontrol dengan dr Heriyadi Manan. Hanya saja, saat itu dr Heriyadinya ga bisa. Alhasil aku pakai dr. Heni saja, padahal sebelumnya belum pernah satu kali pun dipriksa sama dr. Heni.

Di ruang bersalin aku hanya sendiri, Suami mengurus berkas2 yang dibutuhin, sementara Erina ga bisa masuk ke ruangan karna masih kecil. Bidan dan perawat ngeliat aku sendirian pada kebingungan, dengan menanyakan dimana suami & keluarga lainnya. Disitu aku jawab seadanya saja.

Diruangan bersalin aku melow, panik & kebelet pipis. Kerjaannya bolak balik ke WC aja nih. Masa yang bikin nyali ciut itu, dimana saat aku dengar ada ibu-ibu teriak kesakitan saat mau melahirin. Ada juga yang baru datang sudah nangis-nangis krna keguguran, tapi justru yang bikin sedih, karena aku melihat mereka semua selain didampingi suami juga ditemani ibu atau mertuanya 😭.

Oh yah untuk diketahui, ruangan melahirkan di RS bunda cukup besar. Dibagian depan ada ruang sekat-sekat yang banyak ini dikhususkan untuk kelas 2 atau 3. Kemudian ad sekitar 4 ruangan yang terdiri dari 2 VIP & 2 kamar kelas 1, masing-masing kamar diisi satu orang saja. Bagian kamarku dibaris depan, atau persis disamping ruang sekat-sekat jadi suara yang terdengar cukup jelas & menakutkan.

Selama sendiri, aku berusaha olahraga dengan jalan-jalan keliling kamar aja, sambil menelpon suami agar cepat keruangan. Selesai pengurusan ADM, kak Wawan (red:suamiku) masuk ruangan & bilang kalau sebentar lagi cek Vi bakal datang. Aku disuruh bersabar dan perbanyak dzikir, sementara kak Wawan pamit sebentar untuk mengurus askes bapak mertua yang belum aktif di kantor BPJS.

Sehabis Dzuhur, akhirnya yang ditunggu datang juga. Si cek vi datang dengan tergopoh-gopoh, dia minta maaf datangnya agak telat karna mengurus anaknya dulu yang mau sekolah, sesekali dia menguyon agar aku ga tegang, cuma hasilnya garing sih karna sakit yah jadi sudah ga bisa ketawa lagi.

Sekitar jam 1 cek VT uda bukaan 4 aja, prediksi lahiran pun kata dokternya mungkin tengah malam, untuk mempercepat bukaan disarankan pasang infus induksi. Aku yang ga ngerti manut-manut aja,pikirku makin cepet lahiran yah makin bagus. Sementara si Cek Vi lagi keluar dengan erina (psst.. Erina manggil2 druang bersalin karma ga bisa masuk, dia merengek krn kelaparan 😅😅😅) buat cari makan siang dan solat, jadi aku sendiri yang menandatangani surat persetujuannya 😂😂. Abis makan Erina disuruh pulang oleh cek Vi naik ojek.

Ga lama dipasang infus, rasanya nyessss… Banget. Sakiittt banget, sakitnya ga berhenti-berhenti sampai buat nafaspun susah. Aku sampe duduk karn kalau berbaring susah buat nafas. Pas cek vi datang, dia langsung berdzikir ga berenti2 sambil usap-usap perutku.

Okeh, disini aku sudah nangis. Dimana jam 3 sore darah uda sering banget keluar tapi bukaan ga nambah-nambah, alias masih bukaan 4 aja. Ga lama suami datang, dan nenangin aku. Tapi percuma aku sudah ga kuaattt.

Perawat bolak balik VT, sekitar jam 4 bukaan mengalami kemundurun jadi bukaan 3. Aku sudah lemas dan susah buat nafas, tensi darah yang awalnya normal jadi rendah. Perawat sudah nelpin dokter, kemudian dikasih opsi buat SC jika bukaannya terus menurun atau aku sudah ga kuat lagi. Jadwal SC dilakukan tengah malam, krna pasien diwajibkan puasa 6 jam terlebih dahulu.

Awalnya aku masih ngotot buat normal namun apa daya, darah semakin banyak keluar dan fisik semakin lemas, mana aku muntah2 terus. Aq bisikin suami, untuk minta SC. Suami langsung cepat-cepat tanda tanganin surat SC dan suruh perawat telpon dr Heni. Beruntungnya aku pilih dr Heni, meski baru aja nyampe rumah, dia langsung cus ke RS lagi buat priksa kondisiku.

Sekitar pukul 5 dr. Heni datang, pas dipriksa aku langsung masuk ke ruang operasi tanpa harus puasa & pemeriksaan lain-lain karna kondisi sudah mebghawatirkan, aku yang sudah kesulitan buat nafas & lemas diranjang. Bahkan aq ga sadar tuh masuk ke ruang operasi.

Diruang operasi beberapa dokter mulai berdoa, ada yang membantu mendudukkanku di ranjang operasi untuk disuntik dibagian punggung. Katanya, suntikan itu sangat menyakitkan tapi sungguh bagiku tak berasa, padahal uda 2 kali disuntik sebab suntikan pertama gagal.

Drama operasi dimulai, baru juga aku dibaringin & bersiap dibedel. Tiba2 lampu mati aje. Apah???? Iya PLN kejam banget. ya robbi, dalam hati aku pikir sudah mati karna semua gelap gulita. Tapi ini ga lama sih, karna otomatis lampu hidup lagi, tapi kebayang ga jadinya kalo lagi dibedel lampu mati? (gimana nasibku 😰)

Diruangan yang aku ingat hanya dingin, dingiiin sekali & sangat mengantuk. Ada Dokter pria (ga tau namanya) sampai pegang2 pipi & sambil ngajak ngobrol. “bu, anak kita laki apa perempuan? Ibu jangan tidur yah, bentar lagi bayi kita lahirloh bu, ibu ga mau denger suaranya?. Nanti abis operasi ibu boleh tidur, sekarang jangan dulu yah” kayaknya cuma itu yang aku ingat, padahal sepanjang operasi dokter ajak ngobrol terus padahal ga ditanggepin juga 😆

Mau tau rasanya di SC? Sebenarnya ga berasa sih, cuma suara-suara gunting dan alat2 lain itu sungguh menyeramkan, belum lagi perut terasa mual saat tangan dokter merogoh-rogoh mengambil bayinya.

Ga lama aku melihat bayinya diangkat ke atas kakinya & digonjang2. Kemudian mulai menangis, sungguh untuk pertama kalinya aku langsung jatuh cinta dengan suara tangisannya. Si bayi diciumkan ke pipiku & langsung dibawa keruangan karna dikhawatirkan meminun air ketuban yang sudah berwarna hijau.

bayi boyku lahir pukul 18.30 wib tanggal 23 Juni 2014, dengan panjang 48cm dan berat 3 kg. Alhamdulillah terlahir sehat & lucu.

Dengan ini lengkaplah aku menjadi seorang perempuan 😊. Untuk kelanjutannya dsambung nanti yah.

Good nitee semua 😎

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s